Selain Syarat Monetisasi, YouTube Juga bakal Ubah Cara Hitung View Konten

Selain Syarat Monetisasi, YouTube Juga bakal Ubah Cara Hitung View Konten
Ilustrasi Youtube. (Freepik)

Pesisirnusa.com, JAKARTA — Platform berbagi video, YouTube, tengah getol melakukan perubahan terkait konten dari pengguna. Selain syarat monetisasi yang kian ketat, platform tersebut juga bakal mengubah cara menghitung jumlah penayangan atau view konten video mulai 24 Agustus 2026. 

TechCrunch, seperti dikutip Antara, Selasa (18/8/2026), menginformasikan menurut sistem perhitungan yang baru, satu tayangan akan dihitung segera setelah video mulai diputar atau saat seseorang bergabung dalam siaran langsung.

Sebelumnya, YouTube tidak pernah menjelaskan secara resmi caranya menghitung jumlah view. Tetapi penonton maupun kreator konten secara umum memahami bahwa view tayangan baru dihitung setelah pengguna menonton video selama setidaknya 30 detik.

Perubahan dalam cara menghitung tayangan dilakukan sekitar setahun setelah YouTube menerapkan sistem serupa untuk menghitung tayangan video Shorts. Platform pesaing seperti TikTok dan Instagram juga menghitung penayangan sejak video mulai diputar.

Dalam pengumuman di YouTube Community, perusahaan menyatakan bahwa selama ini menggunakan berbagai sistem penghitungan tayangan untuk format yang berbeda. Pembaruan cara menghitung tayangan dilakukan untuk menghilangkan kebingungan kreator mengenai ukuran yang digunakan di platform dan memudahkan kreator memahami jangkauan sebenarnya dari konten mereka.

Namun, perubahan ini justru berpotensi membuat jumlah tayangan (view) video meningkat signifikan, terutama pada video yang hanya mampu menarik perhatian penonton dalam waktu singkat. Hal ini berarti jumlah tayangan mungkin tidak cukup akurat untuk dijadikan sebagai tolok ukur popularitas video.

​​​​​​​Meskipun mengubah cara menghitung tayangan, YouTube tetap akan menyediakan metrik tayangan sebelumnya, yang kini disebut Engaged views. Kreator bisa melihatnya dari fitur Analytics.

Metrik tersebut memungkinkan kreator mengetahui berapa banyak penonton yang memilih untuk terus menyaksikan video mereka, bukan sekadar membuka atau memutar video. YouTube menyatakan perubahan cara penghitungan view tidak akan memengaruhi pendapatan kreator maupun persyaratan untuk mendapatkan penghasilan melalui YouTube Partner Program.

Perubahan dalam cara menghitung tayangan dilakukan hanya sepekan setelah YouTube mengumumkan kebijakan baru mengenai ambang batas bagi kreator untuk mulai memperoleh penghasilan dari iklan dan langganan (monetisasi).

Mulai tahun depan, kreator yang ingin mendapatkan penghasilan dari platform YouTube harus memiliki sedikitnya 8.000 jam waktu tonton yang memenuhi syarat dalam satu tahun terakhir atau 20 juta tayangan Shorts yang memenuhi syarat dalam 90 hari terakhir.

Ambang Batas Monetisasi

Saat ini, syaratnya masih 1.000 pelanggan dan 4.000 jam waktu tonton dalam satu tahun terakhir atau 1.000 pelanggan atau 10 juta tayangan Shorts dalam 90 hari terakhir. Ketentuan baru untuk mendapatkan penghasilan atau monetisasi dari iklan dan langganan melalui YouTube Partner Program (YPP) ini berlaku mulai 1 Februari 2027.

“Kebijakan baru tersebut tidak akan berdampak pada kreator yang sudah tergabung dalam YouTube Partner Program,” bunyi pernyataan YouTube dikutip Bisnis dari laman TechCrunch, Selasa (11/8/2026).

Kanal yang tidak mencapai ambang batas tersebut tetap berada dalam YouTube Partner Program dan masih dapat memperoleh penghasilan dari konten berdurasi panjang. Pendapatan dari Shorts akan kembali diberikan setelah kanal tersebut kembali mencapai 10 juta tayangan dalam 90 hari.

“Perubahan tersebut dilakukan untuk mengikuti pertumbuhan YouTube, yang kini mencatat lebih dari 200 miliar tayangan Shorts setiap hari dan lebih dari satu miliar jam waktu tonton di TV setiap harinya,” tulis YouTube.

Dengan kenaikan ambang batas tersebut, kreator baru, terutama kreator Shorts, akan menghadapi persyaratan yang lebih ketat untuk mulai dan mempertahankan monetisasi di YouTube.

Kreator juga dituntut untuk secara konsisten menghasilkan jumlah tayangan yang besar agar dapat memperoleh pendapatan dari platform. Di sisi lain, YouTube turut memperluas layanan berlangganan Premium Lite ke seluruh negara yang telah menyediakan YouTube Premium. Layanan tersebut menawarkan opsi berlangganan dengan harga lebih terjangkau.

Kreator mendapatkan bagian dari pendapatan langganan berdasarkan waktu tonton dan jumlah tayangan dari anggota. Sebanyak 55% pendapatan diberikan kepada kreator video berdurasi panjang, sedangkan 45% diberikan kepada kreator Shorts.

“Dengan tambahan pelanggan ini, kreator dapat mengharapkan pendapatan yang lebih tinggi: ketika pengguna berlangganan Premium, mitra rata-rata memperoleh lebih banyak pendapatan dibandingkan ketika pengguna tersebut menonton iklan,” tulis YouTube.

Premium Lite menawarkan pengalaman menonton bebas iklan pada sebagian besar video. Layanan ini juga memungkinkan pengguna mengunduh video untuk ditonton secara offline serta memutar video di latar belakang.

Leave a Reply