Musim Kemarau Dimulai! 5 Daerah di Jateng Terdampak Kekeringan, Klaten Terparah

Musim Kemarau Dimulai! 5 Daerah di Jateng Terdampak Kekeringan, Klaten Terparah
Kekeringan dan krisis air bersih saat musim kemarau. (Ilustrasi AI-ChatGPT)

Pesisirnusa.com, SEMARANG — Musim kemarau 2026 yang berlangsung sejak April mulai menimbulkan dampak kekeringan di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Hingga pertengahan Juni, lima kabupaten telah melaksanakan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.

Kepala Bidang Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Armin Nugroho, mengatakan terdapat lima daerah yang telah melaporkan kejadian kekeringan dan melakukan penyaluran bantuan air bersih hingga 19 Juni 2026.

“Data sementara, ada lima daerah yang mengalami kekeringan atau sudah melaksanakan dropping air bersih karena dampak musim kemarau,” kata Armin kepada Espos, Minggu (21/6/2026).

Berdasarkan data BPBD Jawa Tengah, total air bersih yang telah disalurkan mencapai 290.000 liter. Kabupaten Klaten menjadi wilayah dengan distribusi terbesar, yakni 245.000 liter.

Adapun rincian distribusi air bersih di lima daerah tersebut meliputi Kabupaten Klaten sebanyak 245.000 liter, Kabupaten Cilacap 20.000 liter, Kabupaten Purbalingga 10.000 liter, Kabupaten Jepara 10.000 liter, dan Kabupaten Purworejo 5.000 liter.

Menurut Armin, tingginya kebutuhan air bersih di Klaten disebabkan penurunan debit sejumlah mata air selama musim kemarau. Kondisi itu berdampak langsung terhadap pasokan air yang selama ini menjadi sumber kebutuhan masyarakat.

“Debit mata air mengalami penurunan karena berkurangnya pasokan air dari daerah resapan. Selain itu, secara umum masyarakat masih mengandalkan sumur dangkal. Saat musim kemarau, muka air tanah dapat turun beberapa meter sehingga sumur tidak lagi menghasilkan air,” jelasnya.

Meski demikian, BPBD Jawa Tengah belum merinci jumlah warga terdampak di masing-masing daerah. Secara keseluruhan, kekeringan yang terjadi hingga saat ini berdampak pada 1.811 kepala keluarga (KK) atau sekitar 6.138 jiwa.

Armin mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung cukup panjang.

Mengacu pada prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau 2026 berpotensi berlangsung lebih lama sehingga risiko kekeringan di sejumlah wilayah perlu diantisipasi sejak dini.

Karena itu, BPBD Jawa Tengah mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara hemat dan bijaksana, memanfaatkan penampungan air hujan selama masih tersedia, serta menjaga sumber-sumber air yang ada.

“Termasuk selalu waspada terhadap dampak kesehatan yang dapat muncul akibat kekurangan air bersih selama musim kemarau,” ujar Armin.

Leave a Reply